Matahari bersinar terik tepat di atas kepalaku. Rasanya panas sekali. Meski sudah ditutupi kaca helm, mataku tetap menyipit karena tak kuat akan silaunya matahari. Kulihat jam tangan yang menempel di pergelangan tangan kiriku, jarum jam menunjukkan pukul dua belas.
Aku berada di atas sepeda motorku yang berwarna putih hitam. Untuk melindungi kulit dari sengatan matahari, aku biasa memakai sarung tangan berwarna merah serta jaket coklat. Kedua benda itu cukup untuk menutupi tubuhku dari panasnya matahari, tentu tabir surya tak lupa juga kubalurkan.
Jalan yang kususuri tak melulu berjalan lurus. Terkadang belok kanan, terkadang belok kiri. Mengikuti lekuk tanah dan arah yang entah menuju ke mana. Ibarat hidup yang jarang memberikan tanda pasti. Kadang kita memilih, kadang kita yang dipilih. Pilihan kita menentukan arah jalan hidup. Seperti saat aku berada di perempatan jalan sambil menunggu lampu merah berganti peran dengan warna hijau.
Anak Dipaksa Mengamen di Jalanan
Di bawah persis lampu lalu lintas itu, terdapat dua orang pria yang tubuhnya dipenuhi tato tengah duduk memegang segelas plastik kopi yang telah sisa setengah. Mereka bersama satu bocah laki-laki yang memegang ukulele, kelihatannya ia berumur sekitar tujuh tahun. Saat kendaraan berbaris rapi di belakang zebra cross, bocah itu mulai menghampiri kuda besi yang berasap. Sambil memegang ukulelenya, ia petik sembarang senar-senarnya. Mulutnya komat-kamit, entah lagu apa yang hendak ia nyanyikan.
Setelah menyelesaikan petikannya yang pendek, ia menyusuri barisan kendaraan satu-persatu. Tangan mungilnya terulur menyodorkan bungkus plastik bekas camilan, ia berharap kemurahan hati pengendara yang ikhlas memberikannya uang meski jumlahnya kecil. Aku hanya bisa melihat dari jauh, sebab motorku berhenti di barisan belakang. Ia tak menghampiriku karena jarak yang agak jauh. Dalam pandanganku, tak banyak pengendara yang mengulurkan tangannya ke dalam bungkus plastik yang ia sodorkan.
Bocah itu menoleh ke arah pria yang tadi kusebutkan. Ia menggelengkan kepalanya, menandakan tak banyak uang yang ia dapatkan. Melihatnya, pria itu langsung berekspresi masam. Ia melambaikan tangan menyuruh bocah itu menghampirinya. Sontak aku terkejut. Dengan gerakan cepat, tangannya mendorong pundak si bocah hingga tubuh kecil itu oleng ke belakang. Tidak keras memang, tapi cukup untuk membuat ukulele di tangannya hampir terjatuh. Pria itu sambil mengucap sesuatu dengan muka kesal. Aku tak bisa membaca gerak bibirnya, namun aku menebak ia sedang mengomeli bocah itu.
Anak itu diam saja. Tak menangis. Tak membantah. Bahkan, ia hanya menunduk, seolah sudah terlalu hafal dengan bentuk hukuman seperti itu. Di dunia kecilnya, intimidasi mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari. Pemandangan itu membuatku sadar bahwa yang kulihat bukan sekadar anak jalanan, melainkan potret eksploitasi anak yang terjadi terang-terangan di bawah lampu merah.
Masa Kecil yang Dirampas oleh Eksploitasi Anak
Tubuh kecilnya dipaksa bekerja di tengah panas jalanan demi menghasilkan uang untuk orang-orang dewasa di sekitarnya. Ukulele di tangannya bukan lagi alat bermain, melainkan alat untuk mencari nafkah. Bentuk baca juga: eksploitasi anak dalam perspektif hukum seperti ini sering kali terlihat biasa karena terjadi setiap hari di persimpangan jalan, padahal dampaknya bisa merenggut hak anak untuk tumbuh dengan aman dan layak.
Sementara itu, pria tersebut kembali duduk, menyeruput kopinya seolah tak terjadi apa-apa. Sementara bocah itu, perlahan berjalan menjauh tak lebih dari dua meter. Ia berdiam, tatapannya kosong ke jalan aspal. Ada luka yang tak terlihat di wajahnya. Luka akibat eksploitasi anak yang perlahan merampas masa kecilnya sedikit demi sedikit.
Hatiku rasanya berat. Aku menggenggam erat stang motorku, merasa seperti pecundang. Tak berani berbuat apa-apa. Tak mampu menghapus bahkan satu luka kecil dari dunia yang kejam ini.
Masa kecil bocah itu seharusnya penuh berisi tawa dan keriangan, bukan intimidasi dan panas aspal yang menyengat. Seharusnya langkah kecilnya berlari mengejar layang-layang, bukan menyusuri barisan kendaraan dengan ukulele tua di tangan.
Seharusnya tangannya menggenggam es krim yang meleleh, bukan sebungkus plastik bekas untuk meminta belas kasihan. Namun di dunia yang keras ini, masa kecilnya seperti digadai dengan kepingan receh di bawah pengawasan mata-mata yang lebih haus dari sekadar lapar. Baca: Ancaman eksploitasi anak di jalanan membuat anak-anak kehilangan kesempatan belajar, bermain, dan merasakan kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan.
Tak lama, lampu hijau memainkan peran. Deru kendaraan mulai bergerak. Aku ikut melaju, meninggalkan yang baru saja terjadi. Tapi di dalam kepalaku, bayangan wajahnya masih samar-samar muncul. Tak tega rasanya. Aku seperti dapat mendengar lirihan dari dalam hatinya.
Luka yang Tak Terlihat
Aku tahu, mungkin besok bocah itu akan kembali berdiri di bawah matahari yang sama, dengan ukulele yang sama, dan juga dengan harapan yang sama. Ia akan kembali menjadi korban eksploitasi di jalanan, bekerja di usia yang bahkan belum cukup mengerti kerasnya hidup.
Dan aku, akan kembali melaju, membiarkan hidupku berjalan seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa.
Ada luka tak kasat mata yang membekas di dalam hatiku. Luka itu tak bisa ditutupi jaket atau bahkan tabir surya sekalipun. Dan untuk waktu yang lama, aku akan terus mengingatnya.

